Tanaman mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki fungsi untuk menahan arus air laut yang mengikis daratan pantai (abrasi). Habitatnya yang seringkali ditemukan di muara sungai dan air laut membuatnya menjadi pelindung daratan dari tingginya gelombang laut. Mangrove juga menjadi tempat bagi berbagai spesies seperti ikan, burung, kepiting, hingga reptil yang menjaga ekosistem berkelanjutan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2021 tercatat luas mangrove di Indonesia sebesar 3.364.076 Ha dengan 2.661.281 hektar dalam kawasan serta 702.799 hektar di luar kawasan.
Salah satu penggiat mangrove yang ada di Provinsi Banten terdapat di daerah Lontar, Serang. Tanaman mangrove ini pertama kali ditanam oleh Ropin yang memiliki permasalahan dengan tertutupnya Sungai Ciujung yang membawa aliran sungai dengan endapan hingga Tanjung Pontang mengikis habis hulu akibat ombak serta memberikan dampak besar menjadi abrasi yang semakin parah tiap harinya. Karena permasalahan tersebut, Ropin pun mencoba berbagai jenis tumbuhan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yang akhirnya bertemu dengan tanaman yang cocok yaitu mangrove. Kegiatan penanaman ini, dilakukannya secara otodidak dan juga biaya sendiri. Awal penanaman dilakukan hanya sebanyak 500 biji lalu terus bertambah dengan bantuan berbagai pihak membuatnya mendapatkan bibit hingga 10.000 bibit dan kini sudah menjadi tempat wisata. Tanaman mangrove yang dibudidayakan sudah mencapai hingga luas 20 hektar dengan milik pribadinya sebesar 0,5 hektar.

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 melalui program “Aksi Sobat Bumi”, kami sebagai Awardee Sobat Bumi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memiliki rencana aksi untuk menanam tanaman mangrove sebanyak 300 bibit di daerah Lontar, Serang (08/2023). Kegiatan penanaman ini, dimulai dengan berkumpulnya para awardee di Kampus Untirta Pakupatan yang dilanjutkan dengan melakukan perjalan menuju daerah Lontar selama kurang lebih 30 menit. Setelah kami sampai di Wisata Mangrove Jembatan Pelangi, kami diperkenalkan kepada bapak Ropin selaku penggiat tanaman mangrove dan juga anggota dari Kemangteer Serang. Selanjutnya, kami diarahkan terkait tata cara penanaman tumbuhan mangrove. Dari pengarahan tersebut, kami mendapatkan pengetahuan baru bahwa ternyata penanaman mangrove dilakukan dengan melihat kondisi dari air laut, ombak, dan juga jenis tanaman dengan lingkungannya. Penanaman mangrove juga dilakukan dengan membuat lubang dengan jarak tanam 50 cm – 100 cm, lalu dalam melakukan penanaman dilakukan dengan menancapkan penyangga sebagai tanda bahwa terdapat tanaman mangrove di daerah tersebut. Fakta yang unik dalam kegiatan penanaman mangrove ini, bahwa ternyata dalam satu lubang bisa di isi dengan 2-5 bibit yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Akan tetapi, di daerah Wisata Mangrove Jembatan Pelangi, kami melakukan penanaman dengan satu lubang yang dimana masing-masing diisi dengan dua bibit tanaman mangrove saja.

Kemudian setelah pengarahan penanaman tersebut, kami pun langsung menuju daerah yang menjadi titik utama tanam mangrove. Menurut penjelasan Pak Ropin, daerah titik tersebut sebelumnya telah dilakukan penyemaian terlebih dahulu yang nantinya digunakan sebagai pasokan air laut bagi pertumbuhan mangrove dan juga penancapan penyangga. Sehingga, kami pun memulai proses penanaman pertama kali dengan membuka polybag dan menggabungkan dua tumbuhan mangrove menjadi satu, serta langsung terjun menuju lahan tanam dan mengikatnya dengan kayu yang sudah ditancapkan menggunakan tali rafia. Kegiatan penanaman ini dilakukan dengan cukup menguras tenaga namun di sisi lain tentu sangat berkesan. Hal ini disebabkan ketika kaki kami memasuki lahan tanam, rasanya kaki kami sulit untuk diangkat dari lahan mangrove sehingga sedikit menghambat untuk berpindah ke titik penanaman lainnya. Meskipun begitu, karena kami menanam di waktu pagi menjelang siang kondisi air laut dapat terbilang surut hanya sebatas pinggang. Penanaman ini dilakukan dengan durasi waktu sekitar dua jam dengan penanaman bibit mangrove sebanyak 300 bibit.
Setelah penanaman mangrove dilakukan, kami pun bergegas melanjutkan kegiatan lain, seperti bersih-bersih setelah melakukan penanaman mangrove dan juga makan siang dengan Pak Ropin serta anggota Kemangteer Serang di pendopo yang tepat berada di Wisata Mangrove Jembatan Pelangi. Selanjutnya, kami pun berpamitan dan juga mengucapkan kesan serta pesan selama kegiatan penanaman mangrove. Kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan selama satu hari ini membuka mata dan juga pengetahuan kami akan seberapa pentingnya tanaman mangrove dan berdampaknya tanaman tersebut bagi masyarakat di daerah pesisir pantai. Terutama bagi para masyarakat yang penghasilannya bergantung pada tambak ikan di daerah tersebut. Dari penanaman ini juga melalui edukasi yang diberikan oleh Kemangteer Serang, kami juga mengetahui bahwa tanaman mangrove dapat memberikan dampak positif bagi bumi dalam penyimpanan karbon secara efisien, penyaringan air terhadap limbah dan polutan dari air yang mengalir, pengendalian banjir, perlindungan pesisir, dan mampu menjaga pelestarian ekosistem berbagai tumbuhan serta hewan.
Violine Cendana S
Sobat Bumi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa