Sobat Bumi Indonesia

RDF Atasi Penumpukan Sampah di Pulau Lemon

Pulau Lemon atau Wappi merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di perairan Kabupaten Manokwari. Terletak di Teluk Doreri, perjalanan menuju pulau ini dapat ditempuh menggunakan perahu kecil selama 10 menit perjalanan dari pusat kota. Sebagian besar penduduk Pulau Lemon menggantungkan hidup mereka dari sektor perikanan, dengan jumlah nelayan mencapai sekitar 129 orang.

Namun, sampah di Pulau Lemon menjadi topik menarik untuk diperbincangkan. Sebagian besar penduduk pulau mengalami ketidaknyamanan akibat sampah yang dianggap sebagai ‘kiriman’ dari kota. Meski kepadatan penduduk tidak begitu tinggi, jumlah sampah di bibir pantai pulau ini mengalami lonjakan signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh masifnya produksi sampah di Manokwari dan kebiasaan pembuangan yang tidak teratur. Akibatnya, sampah-sampah ini dibuang ke laut, di mana lambat laun terbawa ombak dan sampai ke pesisir Pulau Lemon.

Pengelolaan sampah laut sendiri merupakan permasalahan global yang membutuhkan upaya kolaboratif dan solusi berkelanjutan, tidak terkecuali di Pulau Lemon. Dengan kehidupan pesisir yang begitu kaya, terdapat tantangan besar dalam pengelolaan sampah laut dan keberlanjutan mata pencaharian nelayan yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Oleh karena itu, penerapan transfer ilmu dan solusi energi terbarukan menjadi kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Transfer ilmu terkait pengelolaan sampah laut mencakup pendidikan masyarakat tentang praktik-praktik pemilahan sampah di sumber, pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah, dan implementasi teknologi daur ulang yang efisien. Workshop dan pelatihan terkait pengelolaan sampah laut dapat membantu menciptakan pemahaman yang lebih baik di kalangan nelayan tentang pentingnya menjaga kebersihan laut, serta mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan positif di komunitas. Kolaborasi dengan pemerintah lokal, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta juga dapat memfasilitasi penerapan solusi  berkelanjutan.

Menurut Alfiandra dalam Asmaidah (2022:198-202), proses pengelolaan sampah ada beberapa, seperti a) Pengumpulan, diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya. Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah, bak sampah, peti kemas sampah, gerobak dorong, atau tempat pembuangan sementara. Untuk melakukan pengumpulan, umumnya melibatkan sejumlah tenaga yang mengumpulkan sampah setiap periode waktu tertentu;  (b) Pengangkutan, yaitu mengangkut sampah dengan menggunakan sarana bantuan berupa alat transportasi tertentu ke tempat pembuangan akhir/pengolahan. Pada tahapan ini juga melibatkan tenaga yang pada periode waktu tertentu mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir (TPA);  (c) Pembuangan akhir, dimana sampah akan mengalami pemrosesan baik secara fisik, kimia maupun biologis hingga tuntas penyelesaian seluruh proses. 

Dalam era teknologi modern yang semakin maju, pengolahan limbah plastik menjadi kerajinan tangan menunjukkan kekuatan dari inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan. Proses ini bukan hanya memberikan solusi untuk memperbaiki masalah limbah plastik, tetapi juga merangsang kreativitas, menciptakan lapangan kerja, dan mendekatkan masyarakat dengan alam. Proses pengolahan limbah plastik tersebut melibatkan pengolahan fisik dan kreativitas untuk menciptakan barang-barang seperti dompet, tas, gelang, dan masih banyak lagi.

Di sisi lain, teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) juga dapat digunakan sebagai solusi pengelolaan sampah. Teknologi tersebut menghasilkan sampah padat domestik dan komersial yang telah diproses untuk menghilangkan kontaminan dan mendapatkan nilai bahan bakar. Penerapan RDF sendiri sejalan dengan misi jangka panjang pemerintah untuk melakukan Zero Waste Zero Emission karena mampu mengurangi tumpukan sampah dan mendorong pemanfaatan sampah menjadi sumber energi alternatif pengganti batu bara. Masyarakat di Pulau Lemon dapat membuat RDF yang sederhana. 

Berikut adalah panduan sederhana untuk membuat RDF. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain sampah anorganik padat, peralatan pengolahan dan alat pemanas. Setelah bahan-bahan dikumpulkan, selanjutnya masuk pada proses pengolahan. Diantaranya pemilahan sampah, penggilingan atau penghancuran, pemisahan logam, pemisahan bahan organik, pengeringan, pemadatan dan pembentukan pellet, uji kualitas, penyimpanan dan distribusi. Penting untuk mencatat bahwa pembuatan RDF sederhana ini mungkin memerlukan peralatan tambahan tergantung pada skala produksi dan sumber daya yang tersedia. Selalu perhatikan regulasi dan standar keamanan lingkungan saat memproses sampah menjadi bahan bakar. 

Secara keseluruhan, integrasi transfer ilmu, inovasi dalam pengelolaan sampah, dan pemanfaatan energi terbarukan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi di Pulau Lemon. Langkah-langkah ini perlu didukung oleh kolaborasi antar berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor swasta, untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan positif dalam kesejahteraan pulau ini.

Reinhard Lopulalan

Universitas Papua – Sobat Bumi Regional Manokwari

Leave a Comment