Sobat Bumi Indonesia

Penanggulangan Abrasi di Pantai Bumi Wali

Abrasi merupakan suatu fenomena pengikisan garis pantai yang diakibatkan oleh gurasan air laut. Abrasi sering terjadi di daerah pantai dan dapat menjadi ancaman bagi kehidupan di wilayah sekitarnya seperti halnya permukaan pantai jadi menurun dan pemadatan daratan yang mengakibatkan perubahan pada garis pantai. Sederhananya abrasi adalah pengikisan di daerah pantai akibat gelombang dan arus laut yang sifatnya destruktif atau merusak. Adanya pengikisan tersebut menyebabkan berkurangnya daerah pantai tepatnya wilayah yang paling dekat dengan air laut. Oleh karena itu, apabila abrasi dibiarkan akan terus mengikis bagian pantai dan air laut dapat membanjiri daerah di sekitar pantai tersebut.

Salah satu daerah yang berdampingan dengan pantai utara adalah Kabupaten Tuban. Kota bumi wali ini merupakan daerah pesisir yang terletak di kawasan Pantura atau pantai utara Jawa Timur dan mempunyai panjang pantai kurang lebih 65 km mulai dari Kecamatan Palang sampai dengan Kecamatan Bancar yang memiliki luas wilayah laut 16.950 Ha serta terdapat 5 Kecamatan yang dekat dengan pantai yaitu Kecamatan Tuban, Palang, Tambakboyo, Jenu dan Bancar.

Kabupaten Tuban merupakan salah satu wilayah yang terdampak abrasi cukup parah. Salah satu Kecamatan yang terdampak, yaitu Kecamatan Bancar sehingga terjadi permasalahan seperti lahan pemukiman dan mata pencaharian yang hilang serta kualitas hidup masyarakat mengalami dampak secara langsung.

Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah pesisir sebagian kelangsungan hidupnya bergantung pada sumber daya alam. Kondisi wilayah pesisir yang berpotensi tersebut akan berdampak pada aspek sosial ekonomi dan sosial budaya penduduk mulai dari aktivitas industri dan aktivitas reklamasi yang menimbulkan pencemaran serta perubahan pola arus sehingga terjadinya akresi dan abrasi. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi di kota Tuban. Pertama, menurunya permukan tanah (Land Subsidance). Pengambilan air tanah secara masif untuk keperluan air minum maupun untuk pemenuhan kebutuhan air oleh masyarakat di kawasan pesisir Kecamantan Bancar akan menimbulkan permukaan tanah menjadi turun. Secara gemorfologi tanah di kawasan pesisir ini adalah lempung atau lumpur, dimana sifat fisiknya bisa berubah-ubah tergantung kandungan air didalamnya. Penurunan air tanah mengakibatkan berkurangnya air pori yang mengakibatkan penggenangan dan pada gilirannya meningkatkan erosi serta abrasi pantai. 

Faktor kedua, yaitu perubahan iklim global. Kerusakan akibat alam lain ini disebabkan oleh pemanasan global (efek rumah kaca) yang menjadikan naiknya permukan laut akibat tingginya gelombang air laut di daerah pesisir pantai utara jawa dan terjadinya pengaruh siklon tropis.

Ketiga, minimnya tanaman penghambat laju abrasi pohon bakau dan cemara udang dimana tanaman tersebut dapat  menahan laju abrasi dan memulihkan ekosistem yang rusak akibat abrasi. Perakaran tanaman bakau dan cemara udang sangat berperan penting untuk menahan sedimentasi dan meredam laju gelombang air laut sehinga dapat membentuk lahan baru jika penanaman dilakukan secara masif dan dipelihara dengan baik. Namun, di kawasan pesisir Kecamatan Bancar jumlah lahan pesisirnya masih sangat kurang untuk penananmannya. Walupun kampanye penanaman pohon ini sering digalakan, tetapi belum bisa menyeluruh. 

Faktor yang terakhir adalah kerusakan akibat ulah manusia kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia di kawasan pesisir Kecamatan Bancar. Hal tersebut terjadi karena masifnya pembangunan semenjak pelabuhan ikan bulu sebagai pusat ekonomi baru masyarakat yang mengakibatkan bangunan baru di sekitaran pelabuhan, pembukaan lahan tambak baru yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan, dan juga ulah masyarakat yang melakukan penamabangan pasir di perairan pantai.

Dari permasalahan tersebut, adapun solusi yang dapat diterapkan dalam pencegahan terjadinya abrasi adalah sebagai berikut:

  1. Menanam Pohon Bakau

Pohon bakau merupakan jenis pepohonan yang akarnya dapat menjulur ke dalam air pantai. Biasanya pohon bakau ditanam sejajar garis pantai sekaligus membatasi daerah air dengan daerah pantai yang berpasir. Akar pohon bakau yang kuat akan menahan gelombang dan arus laut yang mengarah ke pantai agar tidak menghancurkan bebatuan dan tanah di daerah pantai. 

  1. Memelihara Terumbu Karang

Pencegahan abrasi juga dapat dilakukan dengan pemeliharaan terumbu karang. Seperti kita ketahui bahwa terumbu karang memiliki fungsi sebagai pemecah gelombang. Dengan begitu, apabila ekosistem terumbu karang diperbaiki, maka dapat meminimalisir terjadinya abrasi. 

  1. Melarang Penambangan Pasir

Pencegahan ini merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintahan daerah dan pusat yang harus tegas melarang kegiatan penambangan pasir di daerah daerah tertentu melalui peraturan pemerintah. Pencegahan abrasi dapat dilakukan bila persediaan pasir di lautan masih memadai sehingga gelombang air tidak menyentuh garis pantai.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan kali ini, yaitu laju abrasi di Kecamatan Bancar sangat tinggi sehingga akan berdampak pada beberapa sektor. Jika tidak ada penangganan khusus dari pemerintah dan masyarakatnya dan dibiarkan secara terus menerus, abrasi bukan hanya mengikis bibir pantai saja melainkan akan mengikis kehidupan masyarakat yang hidup di pesisir Kecamatan Bancar, mulai dari budaya, ekonomi bahkan lingkungan mereka. 

Saran kami, yaitu Pemerintah dan masyarakat harus berkerjasama dalam menangani dan menanggulangi abrasi ini agar tidak berdampak pada kehidupan masyarakat dan pendidikan sadar lingkungan juga perlu di gencarkan agar masyarakat aktif menjaga lingkungan mereka seperti upaya penanaman cemara udang dan tanaman bakau sebagai antisipasi abrasi yang terus bergerak secara masif mengikis bibir pantai serta melindungi pemukiman yang rawan abrasi. Oleh karena itu, perlu dibuatkan bagunan sebagai pemecah gelombang untuk meminimalisir abrasi serta menggalakan berbagai program peningkatan ekonomi agar masyarakat bisa mandiri dan tangguh hidup di daerah pesisir yang rawan bencana abrasi.

Laura Paradita

Universitas Sunan Bonang – Sobat Bumi Regional Tuban

Leave a Comment