Kecintaan terhadap alam membawaku ke banyak tempat. Salah satu perjalanan yang paling kuingat adalah keberanian untuk terjun langsung ke lapangan untuk melakukan edukasi iklim, tidak berhenti hanya pada kalangan tertentu saja, namun juga meliputi anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia. Hal ini digunakan untuk menegaskan bahwa pelestarian bumi tidak berhenti pada satu generasi atau jenjang tertentu saja.
Ketertarikan saya sebagai Gen Z untuk ikut berkontribusi terhadap penghijauan bumi berawal dari rasa kagum dengan siklus kehidupan di alam dan berpikir bahwa saya harus berani memulai langkah untuk menjaga bumi tetap lestari. Ketika pertama kali mengetahui pentingnya menjaga lingkungan perubahan pertama yang saya lakukan adalah mencari komunitas di lingkungan kampus yang turut bergerak dalam ruang kepedulian terhadap isu lingkungan.
Kegiatan demi kegiatan membawa saya memahami perspektif mengenai perubahan iklim dan ingin terlibat dalam pergerakannya. Kontribusi saya berlanjut hingga sepanjang tahun 2022 lalu, saya diberikan kepercayaan sebagai Director of Studies (Kepala Divisi/Departemen) sebagai titik leadership saya yang berfokus pada pengembangan pengetahuan, kajian, dan riset mahasiswa seputar topik perubahan iklim. Pengalaman ini menyenangkan bagi saya karena dapat menyalurkan kegemaran belajar dan menerapkan ilmu pada berbagai kesempatan.
Bersama teman-teman, saya berkegiatan terjun lapangan dalam proyek edukasi iklim ke sekolah Tumbuh High School (THS) Yogyakarta dengan seluruh siswa setara dengan kelas 7-9 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nampak bahwa anak-anak jauh lebih tertarik mengetahui gagasan untuk “menyelamatkan planet bumi”. Mereka mampu menampakkan kepedulian melalui pertanyaan dan diskusi yang dilemparkan secara interaktif dua arah. Uniknya, sekolah yang berhasil kami kunjungi ini merupakan lingkungan ramah difabel, menandakan bahwa estafet pelestarian bumi mampu menyasar siapa saja tanpa kecuali.
Melalui kesempatan ini, kami bekerja dengan tim kreatif organisasi untuk merancang materi sederhana dengan animasi warna-warni mengenai dasar pengertian perubahan iklim, faktor yang menyebabkannya, berbagai contoh dampaknya, beserta hal-hal kecil yang mampu dilakukan untuk mewujudkan lingkungan yang lestari. Di akhir kegiatan, kami meminta anak-anak menuliskan “Pesan untuk Bumi” pada selembar kertas secara berkelompok sebagai kenang-kenangan. Aktivitas ini mendapatkan respons menggembirakan dari guru maupun orang tua para murid.
Tidak berhenti di sektor sekolah dan anak-anak, aku juga terjun untuk edukasi iklim di bidang kesehatan melalui proyek fakultas yang ditujukan bagi publik, masyarakat desa, beserta penduduk usia lanjut. Sebagai bentuk melengkapi perjalanan tersebut, pada 2022 saya memperoleh kesempatan unik untuk terjun dalam proyek dosen berupa edukasi kesehatan beserta faktor-faktor penyerta ke daerah tertinggal di Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta. Kami menggunakan bahasa Jawa secara langsung agar dimengerti masyarakat setempat. Salah satu topik yang menarik perhatian saya adalah kesehatan lingkungan hidup dimasukkan dalam bahasan utama untuk mendukung masyarakat dan hewan ternak bebas penyakit menular. Pada akhir kegiatan, tim kami berhasil memberikan output berupa activity report yang dirilis dalam bahasa Inggris pada Desember 2022 berjudul “Case-Control Study: Determinant Analysis of Anthrax Potential in Gedangsari Sub-district Gunungkidul District, 2022”.
Selain pendekatan secara langsung, kami juga bergerak melalui platform media sosial untuk menjangkau lebih luas. Aksi ini harus dilakukan sebagaimana titik penting gen Z dan generasi milenial yang tumbuh di lingkup era digital agar dapat menjadi teladan (role model) dan bijak menyerap informasi melalui jejaring internet. Kehidupan dalam kungkungan teknologi pastinya mampu memberikan dampak positif untuk meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui media sosial.
Harapannya, beragam upaya yang diberikan untuk andil dalam aksi terhadap perubahan iklim dapat senantiasa dilanjutkan dan berdampak besar secara kolektif. Di masa yang akan datang, kehidupan dapat berkembang lebih baik dan semakin besar angka kepedulian terhadap isu perubahan iklim.
Grace Junicia Krisinda Kristian
UGM – Sobat Bumi Regional Yogyakarta