Sobat Bumi Indonesia

Nyala Semangat Perubahan

Mahatma Gandhi—seorang tokoh penting dunia—pernah berkata You must be the change you wish to see in the world” yang artinya jadilah perubahan yang ingin kau lihat di dunia. Saat mendengar pepatah tersebut, banyak pertanyaan besar yang memenuhi kepalaku. Bisakah aku menjadi perubahan itu? Kedengarannya terlalu berlebihan, bukan? Apakah mungkin seorang aku dapat membawa perubahan positif untuk dunia ini? Dari manakah aku harus memulainya?

17 Oktober 2023, aku melangkahkan kakiku dengan optimisme yang menyesakkan dada menuju tempat yang kuyakini dapat menjadi awal bagi perubahan itu. Terhitung sejak hari itu, aku mengikuti workshop pelatihan kompetisi Desa Energi Berdikari Sobat Bumi (DEB SOBI). Adapun workshop tersebut berlangsung selama empat hari lamanya. Kuikuti acara tersebut dengan antusiasme yang tinggi dengan harapan dapat membawa perubahan yang bermanfaat. Melalui acara tersebut, aku dan timku merencanakan rancangan pembuatan proposal kegiatan.

Pembuatan proposal pada acara tersebut sebenarnya merupakan kewajiban bagiku dan para penerima beasiswa SOBI Pertamina lainnya. Namun, aku tidak serta merta melakukannya atas dasar kewajiban semata. Bagiku, inilah momen yang tepat untuk memulai perubahan yang ingin kulihat di dunia ini. Dan aku, ingin menjadi bagian dari perubahan itu.

Pada prosesnya, terdapat berbagai kesulitan yang dihadapi oleh aku dan tim, antara lain karena banyak di antara anggota tim yang tidak mendalami bidang yang diusung dalam kompetisi ini. Selain itu, terdapat pula drama dalam menemukan mentor yang sejalan dengan visi dan misi tim kami. Namun, menyerah bukanlah jalan yang kupilih untuk menyongsong perubahan. Aku berkali-kali menyalakan api juang para anggota tim agar terus berupaya mewujudkan mimpi kami bersama.

Sejak awal, aku dan tim telah meminta universitas untuk merekomendasikan mentor guna membimbing kami yang masih meraba-raba. Meski demikian, kami sebenarnya telah memiliki rekomendasi dan rencana yang telah tersusun rapi. Pihak universitas kemudian menunjuk seorang mentor yang dinilai mumpuni dalam membimbing pada kompetisi ini. Namun, padatnya kegiatan dari mentor tersebut tidak memungkinkan kami untuk mendapatkan bimbingan selama workshop berlangsung.

Hingga pada tanggal 24 Oktober, akhirnya kami dapat berdiskusi dengan beliau dan menghasilkan rancangan proposal. “Pengolahan Limbah Peternakan Sapi sebagai Biogas dan Pemanfaatan Pupuk Tanaman untuk Mewujudkan Desa Energi Berdikari di Desa Jatisura Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu” menjadi judul dari proyek besar kami yang diharapkan dapat memberikan kebermanfaatan bagi banyak pihak. Seketika, rasa bahagia menyeruak dalam hatiku. Harapan untuk menjadi bagian dari perubahan itu terasa semakin nyata.

26 Oktober 2023 menjadi hari di mana aku dan tim melangkahkan kaki kami menuju Situbolang, Cikedung. Kedatangan kami bertujuan untuk melihat peternakan sapi yang ada pada daerah tersebut serta memetakan langkah selanjutnya. Melalui survei tersebut, kami mengetahui keberadaan peternakan sapi dan peternak yang bersedia menjalin kerjasama dengan kami. Kotoran sapi yang dihasilkan melalui proses pada peternakan di daerah tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai biogas. Namun, kami belum menentukan lokasi untuk menempatkan prototype yang akan dibuat dalam tahap selanjutnya.

Pada 28 Oktober 2023, tim kami melanjutkan penyusunan proposal dengan semangat yang semakin membara. Bagaimana tidak, potensi nyata yang terbentang di hadapan kami seolah menegaskan bahwa perubahan yang diimpikan akan terwujud. Namun, pada kenyataannya, drama mentor yang terus menerus berlangsung membuat mimpi itu terasa menjauh perlahan. Waktu yang dianggap terlalu singkat serta perbedaan visi dan misi cukup membulatkan tekad kami untuk mencari mentor yang baru. Setelah melalui drama yang panjang dan cukup melelahkan, akhirnya kami menemukan malaikat tak bersayap yang bersedia membimbing langkah selanjutnya.

Perjalanan panjang yang kami lalui dalam menyusun proposal kegiatan ini akhirnya bermuara pada pergantian judul menjadi “Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik sebagai Teknologi EBT melalui RDF (Refuse Derived Fuel) untuk mewujudkan Desa Energi Berdikari di Desa Singaraja Blok Langgen Tahun 2023-2028”. Sesuai dengan judul pada proposal yang terbaru, kami kembali melakukan survei lapangan, namun menuju lokasi yang berbeda yakni Desa Singaraja Blok Langgen. Kegiatan survei berlangsung lancar, setidaknya cukup untuk tetap mempertahankan kegigihan kami untuk menjadi agen perubahan.

Sisa waktu yang tersisa untuk menyelesaikan penyusunan proposal semakin menipis. Bak Bandung Bondowoso dalam legenda Candi Prambanan, kami mengerahkan berbagai upaya untuk menyelesaikan proposal sebaik mungkin, namun tentu saja tidak melibatkan bantuan jin dalam prosesnya. Di detik-detik terakhir, pengumuman mengenai perpanjangan waktu selama satu hari seolah mengizinkan kami untuk sejenak menghela nafas setelah lelah berkejaran dengan waktu.

Pada 13 November 2023, mimpi untuk membawa perubahan semakin dekat dalam genggaman kami. Proposal yang telah disusun dengan susah payah tersebut dinyatakan lolos tahap kurasi dan dapat melanjutkan ke tahap wawancara. Pada saat itu, ledakan rasa bahagia dapat dirasakan oleh masing-masing anggota tim. Kerja keras yang telah dilakukan terbayar lunas dengan pencapaian yang diperoleh. Namun, tidak semua rencana akan berjalan sesuai dengan ketentuan Tuhan.

Pada tahap wawancara, tim kami dinyatakan gagal untuk melenggang ke tahap selanjutnya. Meski demikian, kami merasa sangat bangga dengan apa yang telah diupayakan bersama. Setidaknya, kami telah berani untuk memulai perubahan. Kembali mengutip pepatah Mahatma Gandhi yang berbunyi the future depends on what we do in the present”, terdapat harapan untuk menciptakan masa depan yang cemerlang melalui apa yang telah kami lakukan saat ini. Ini bukan menjadi akhir bagi cerita kami, melainkan awal bagi aksi nyata yang lebih besar selanjutnya.

– Triani Rahayu

Universitas Wiralodra

Sobat Bumi Indramayu

Leave a Comment