Pengurus Sobat Bumi Indonesia mengadakan webinar sebagai mini project bertajuk “Krisis Iklim: Lindungi Bumi Tempat Bermukim” melalui Zoom, Sabtu (18/3). Terbuka untuk umum guna meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim, kegiatan ini diikuti oleh ratusan orang.
Ketua Pelaksana, Farhan Zainuddin mengatakan webinar krisis iklim ini merupakan adalah bentuk peduli Sobat Bumi Indonesia dalam merespon situasi saat ini.
Kita berupaya untuk meningkatkan pengetahuan, kepedulian, dan tindakan. Apa yang seharusnya dilakukan kepada lingkungan sekitar,” tutur Farhan.
Webinar ini dibuka oleh pegiat lingkungan sekaligus ambassador dari Global Youth Climate Network, Habaib Al Mukarramah. Ia membahas tindakan kecil untuk masa depan hijau yang berkelanjutan.
“Sebagai agen pembawa perubahan, kita bisa mengajak dan menyadarkan pemuda dewasa ini terkait permasalahan lingkungan. Every act, matters,” ujar Habaib.
Sesi materi ditutup oleh pemaparan dari Chandra Wahyu Purnomo, S.T., M.E., M.Eng., D.Eng. Ia adalah dosen Universitas Gajah Mada (UGM) dan founder Dumask Indonesia, wadah pengolahan sampah masker sekali pakai non medis yang ada di Jogjakarta.
Chandra menjelaskan terkait pengelolaan sampah untuk mitigasi krisis iklim. “Mitigasi harus dilakukan untuk menjaga suhu global di kirsaran 1,5°C sesuai Paris Agreement. Mitigasi dapat melalui kelola sampah organik mulai dari sumbernya, meminimasi sampah sisa makanan, membuat kompos dalam skala besar, dan dapat menggunakan teknologi modern seperti anaerbik digestion untuk menghasilkan biogas.” paparnya.
Pada akhir materi, Ia juga menyampaikan dampak tumpukan sampah yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan di masa yang akan datang. “Baik gas rumah kaca, bau, gas beracun saat kebakaran, hingga air lindi mikro plastik,” jelas Chandra.
Webinar ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan ice breaking yang menarik antusias para peserta
Afrida