Di manakah kalian akan tinggal jika hanya bumi yang mampu menyediakan seluruh hal yang kita butuhkan? Jawabannya hanya Planet Bumi, bukan? Berbicara soal bumi tidak terlepas dari lingkungan. Mereka berdua bagaikan sepasang sepatu kanan dan kiri apabila kita menjaga lingkungan maka bumi akan memberikan kebermanfaatan bagi kita. Nah, di sini aku ingin membagikan kisahku mengenai salah satu tanaman yang berlimpah di Indonesia yang memiliki sejuta manfaat untuk lingkungan.
Kalian ingin tahu apa itu?
Langsung saja kita sambut tanaman mangrove!
Menurut data KLHK (2021), sebesar 24% populasi mangrove di dunia terletak di Indonesia. Nah, salah satu wilayah di Indonesia yang dilimpahkan mangrove ada di timur Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Banyuwangi. Pada Januari 2023, aku melakukan penelitian mengenai Governing Green Transition (GOGREEN) yang diikuti 25 negara di dunia. Aku tidak sendirian, saat itu salah satu negara, yakni Denmark (Roskilde University) tertarik untuk melihat langsung bagaimana mangrove memberikan efek domino yang sangat besar di Banyuwangi.

Kalian tahu, apa yang dikatakan oleh Dr. Alex, peneliti Denmark mengenai Banyuwangi?
“Is it a place that black magic exists?”
Bayangkan Banyuwangi yang dikenal sebagai daerah ilmu hitam dan santet, di sini aku membuktikan kepada dunia bahwa terdapat surga lingkungan yang kaya dan berlimpah dari mangrove. Kami langsung membawa Dr. Alex menuju salah satu desa yang tergabung dalam kawasan aglomerasi pengelolaan mangrove yang dinamakan dengan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Teluk Pangpang. Desa itu adalah Desa Wringinputih. Kami bertemu dengan Pak Hendro yang juga merupakan Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Makmur.
Di sana, kami disuguhkan dengan berbagai macam produk pengolahan mangrove yang ternyata dapat dikonsumsi oleh manusia, seperti keripik mangrove, sirup, dan teh. Aku dan Dr. Alex mencicipi bagaimana rasa keripik yang diolah dari daun mangrove.
Wah!
Semua dunia harus coba rasa baru dan lezat keripik ini! Ternyata para penduduk lokal di desa ini meningkatkan nilai pakai mangrove sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi.
Hari berikutnya, aku diajak oleh Pak Hendro dan tim untuk langsung terjun ke dalam hutan mangrove dan melihat bagaimana proses penanaman dan perawatan mangrove di Desa Wringinputih. Setibanya kami di wilayah hutan mangrove, kami langsung diperkenalkan oleh lima jenis mangrove yang sedang diteliti untuk pengobatan bisul dan pembuatan masker alami untuk tubuh. Kami diberikan buah mangrove tersebut dan langsung mencicipi bagaimana rasanya. Hmmm, pahit dan seperti rasai petai tetapi khasiatnya luar biasa dan yang pasti tidak berbau.
Kami juga diperlihatkan bagaimana tanaman mangrove menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup di bawahnya. Ada kerang kicing, udang, kepiting kecil, dan burung etnik yang mana mangrove ternyata dijadikan sebagai wilayah pemberhentian untuk migrasi burung Asia dan Australia.
Selajutnya, kami juga diperlihatkan bagaimana salah satu jenis mangrove yang saat ini sedang gencar dilakukan di desa tersebut untuk carbon trade. Kalian tahu bahwa mangrove ternyata bisa menyimpan oksigen dan menangkal CO2, loh dan dihargai sangat mahal di dunia! Dari konservasi mangrove saja bisa dihargai US$ 3-13/tCO2.
Coba kalau kita tanam mangrove di sepanjang garis pantai seluruh Indonesia. Berapa yaa totalnya, banyak sekali, bukan?
Puas melihat dan mengamati tanaman mangrove secara langsung, kami bergegas untuk mengeksplor lebih dalam mengenai peran mangrove dalam peningkatan nilai ekonomi dan lingkungan melalui wawancara kepada beberapa informan. Kami sudah melakukan penggalian data dengan para nelayan, petani lokal, Podarwis, Pokdakkan, perangka desa, NGO: Indonesia BISA, dan pemerintah (Perhutani Banyuwangi, CDK Wilayah Banyuwangi, Bappeda Kab. Banyuwangi, dan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur). Ternyata, mereka semua mendukung terwujudnya nilai-nilai SDG Hijau melalui cara pengelolaan dan konservasi mangrove yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan sosial. Kami disambut dengan sangat hangat oleh para informan dan mereka secara terbuka menceritakan bagaimana antara Masyarakat, pemerintah, akademisi, dan privat bahu-membahu menciptakan kolaborasi untuk pengelolaan mangrove.
Terakhir, untuk meningkatkan motivasi dan semangat pelestarian lingkungan para pemuda desa dan masyarakat sekitar membuat poster lingkungan mengenai mangrove, salah satunya sebagai berikut.
“Tanjange AKEH, Picise AKEH” (BANYAK mangrove, BANYAK uang)
Di sisi lain, apa manfaat mangrove?
- Bidang Ekonomi: Mangrove dapat diolah sebagai sesuatu yang bermanfaat untuk dikonsumsi dan pengobatan alternatif.
- Bidang Pendidikan: Mangrove diajarkan kepada anak-anak SD dan SMP, kemudian siswa SMK/SMA diarahkan untuk mengolah langsung bagaimana pengolahan mangrove agar dapat dikonsumsi dan diperkenalkan kepada dunia. Secara tidak langsung, masyarakat desa melakukan regenerasi dan suksesi terhadap individu yang peduli terhadap pelestarian lingkungan melalui mangrove.
- Bidang Pariwisata: Mangrove menjadi salah satu destinasi wisata melalui Festival Budaya Susur Mangrove dan Festival Hari Mangrove Dunia. Banyak masyarakat yang memberikan paket wisata untuk menelusuri dan mempelajari mangrove kepada wisatawan sehingga mereka teredukasi sambal berwisata (ecoedu tourism)
- Bidang Akademik/Penelitian: Mangrove dijadikan sebagai salah satu objek penelitian bagi para akademisi/peneliti untuk mengkaji lebih banyak manfaat dan konservasi mangrove.
Akhir cerita, aku sangat bahagia bisa memperkenalkan mangrove yang berlimpah di Indonesia tidak hanya sebagai tanaman yang digunakan untuk blue environment tetapi segudang manfaat untuk berbagai bidang kehidupan manusia. Ayo, kita gali ide-ide cemerlang untuk melestarikan mangrove sesuai dengan potensi, kreasi, dan inovasi yang kita miliki. #MangrovekuMendunia.
Salsabila Amanda Putri
Universitas Indonesia – Sobat Bumi Regional Jakarta