Sobat Bumi Indonesia

Bioenergi Berbasis Limbah Alam sebagai Alternatif Strategis Batu Bara di Kalimantan

 

Seringkali tanpa disadari perangkat yang saat ini kita gunakan merupakan salah satu penyebab dari ketidakseimbangan alam, seperti pemanasan global dan dampak lainnya. Bagaimana tidak, perangkat seperti smartphone, laptop, serta peralatan elektronik lain tentunya mengkonsumsi energi listrik. Semakin hari penggunaan electronic devices dan electric vehicle kian bertambah sehingga listrik menjadi salah satu sektor penting sebagai sumber daya. Sedangkan Indonesia masih lebih banyak menggunakan pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara. Pulau Kalimantan sendiri merupakan salah satu tanah penghasil batu bara yang terbesar di Indonesia. Kabar baiknya, terdapat potensi lain yang dapat menjadi alternatif atas ketergantungan terhadap batu bara selama ini. 

Energi listrik yang diserap oleh peralatan elektronik memang tidak selalu berdampak buruk, tergantung darimana sumber energi listrik ini dihasilkan. Berbagai macam pembangkit listrik di Indonesia seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan banyak lagi pembangkit listrik tenaga lainnya. Hanya saja, pada kenyataannya masih sangat besar bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dengan bahan bakar yang digunakan adalah energi fosil berupa batu bara. Memang benar bahwa salah satu manfaat dari menggunakan batu bara adalah ketersediaannya yang sangat melimpah hingga bahkan di berbagai negara. Hal tersebutlah yang juga menjadikan batu bara ini menjadi sumber energi yang relatif murah serta efisien. Oleh sebab itu, dapat kita perhatikan bahwa sampai saat ini masih sangat banyak negara – negara yang bergantung dengan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Namun, penggunaan dari batu bara memiliki banyak sekali kekurangan dan dampak buruk. Salah satu kekurangan utama yang signifikan adalah dampaknya yang dihasilkan pada lingkungan. 

 Pada proses pembakaran, batu bara menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar yang berkontribusi terhadap peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim. Di sisi lain, batu bara hingga saat ini masih menjadi salah satu sumber utama pembangkit energi listrik. Hal ini tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan listrik di era modern, di mana perkembangan teknologi dan digitalisasi berlangsung sangat pesat. Berbagai inovasi seperti sistem pembayaran elektronik, penggunaan smartphone, hingga transformasi kendaraan menuju teknologi listrik dan hybrid menunjukkan bahwa energi listrik telah menjadi kebutuhan fundamental masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan energi listrik terus meningkat dari waktu ke waktu.

Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara sebagai sumber energi utama menjadi permasalahan serius karena dampak lingkungannya yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan limbah alam sebagai sumber energi alternatif, khususnya di wilayah Kalimantan yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah.

Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi batu bara Indonesia pada tahun 2020 mencapai 535 juta ton, turun 9,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan produksi ini disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang mempengaruhi permintaan global terhadap batu bara. Selain itu, BPS juga mencatat bahwa ekspor batu bara Indonesia pada tahun 2020 turun 14,6% menjadi 373 juta ton. Penurunan ekspor ini juga disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang mempengaruhi permintaan global terhadap batu bara. 

Meskipun batu bara masih menjadi sumber energi utama di Indonesia, penurunan produksi dan ekspor batu bara menunjukkan perlunya diversifikasi sumber energi. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada batu bara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menargetkan 23% dari total kapasitas listrik di Indonesia berasal dari energi terbarukan pada tahun 2025. Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat mengurangi dampak buruk dari penggunaan batu bara terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, serta memastikan keberlangsungan hidup planet ini untuk generasi yang akan datang.

Dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup planet ini, kita harus mempertimbangkan alternatif energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penggunaan briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa sebagai alternatif batu bara dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak buruk dari penggunaan batu bara terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dengan demikian, kita dapat menjaga lingkungan dan kesehatan manusia, serta memastikan keberlangsungan hidup planet ini untuk generasi yang akan datang.

Tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa merupakan limbah padat yang dihasilkan dari industri kelapa sawit dan kelapa. Limbah ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif batu bara dengan cara dijadikan briket. Briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa memiliki nilai kalor yang tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara.

Selain itu, penggunaan briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan batu bara. Limbah padat ini dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke lingkungan. Selain itu, penggunaan briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh pembakaran batu bara. Pemerintah Indonesia juga telah mendorong penggunaan briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa sebagai alternatif batu bara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan insentif kepada produsen briket dan mengembangkan teknologi produksi briket yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Kalimantan merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produksi briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa sebagai alternatif batu bara. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar swasta. Selain itu, Kalimantan juga memiliki beberapa provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Dengan potensi yang besar ini, pengembangan produksi briket dari tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa di Kalimantan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak buruk dari penggunaan batu bara terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Selain itu, pengembangan produksi briket juga dapat memberikan dampak positif pada perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit. 

Potensi tempurung kelapa untuk briket di Kalimantan cukup besar. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan produksi briket dari tempurung kelapa di Kalimantan. Salah satu penelitian yang dilakukan di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa potensi ampas tebu dan tempurung kelapa untuk briket cukup besar. Selain itu, pabrik arang briket dari batok kelapa juga telah dibangun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Proses pengolahan kelapa sawit di Kalimantan juga menghasilkan tandan kosong kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk produksi briket. Dengan potensi yang besar ini, pengembangan produksi briket dari tempurung kelapa di Kalimantan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak buruk dari penggunaan batu bara terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Selain itu, pengembangan produksi briket juga dapat memberikan dampak positif pada perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit. 

Pengembangan produksi briket dari bahan-bahan alternatif seperti tandan kosong kelapa sawit dan tempurung kelapa memiliki potensi yang besar di Kalimantan. Briket dari bahan-bahan tersebut memiliki nilai kalor yang tinggi dan dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara. Selain itu, pengembangan produksi briket juga dapat memberikan dampak positif pada perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, pengembangan produksi briket dari bahan-bahan alternatif dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi dampak buruk dari penggunaan batu bara terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Kafin Sulthana Hilmi

Institut Teknologi Kalimantan – Sobat Bumi Regional Kalimantan

Leave a Comment